Bak mata uang, dampak penggunaan timbangan dapat memiliki dua sisi. Dengan memahami seluk-beluk seputar berat badan, kita dapat lebih bijak dalam menggunakannya.
Bagi yang sedang berusaha menurunkan berat badan, berdiri di atas timbangan bisa mendatangkan kegalauan sendiri. Seakan-akan, alat yang satu ini adalah penentu dari segala jerih payah yang telah kita keluarkan untuk mengikis lemak di tubuh.
Di dunia kesehatan, peranan timbangan dalam pemantauan dan proses penurunan berat badan menuai kontroversi tersendiri. Di satu sisi, sebagian pakar mendorong kita untuk menimbang tubuh, agar berat badan dapat selalu terpantau. Sebuah review terhadap sejumlah studi memperlihatkan, sebesar 75% anggota The National Weight Control Registry mengalami penurunan berat badan setidaknya sekitar 15 kg dengan menimbang berat seminggu sekali. The National Weight Control Registry adalah semacam gerakan riset yang masih berjalan di Amerika Serikat, dengan misi mengumpulkan informasi dari orang-orang yang telah sukses menurunkan berat badan dan mempertahankannya.
Riset lain yang diadakan pada 2010 menunjukkan, para perempuan yang dengan sukarela melakukan pemantauan mandiri terhadap berat badannya dapat menurunkan 5% bobotnya dalam 16 minggu. Pemantauan ini berupa mengisi diari yang berisi detail seputar pola makan, olahraga, dan berat badan. Sementara, penelitian lain menyatakan, tidak menimbang berat badan dengan teratur, dapat membuat kita berisiko terhadap pertambahan berat yang drastis serta obesitas, tanpa menyadarinya sama sekali.
Ini hanya bicara di satu sisi. Sekarang, mari kita bicarakan juga sisi lainnya. Sejauh ini, ada banyak pihak yang juga mempertanyakan tentang angka yang tertera pada timbangan. Apakah memang dapat menjadi tolak ukur yang akurat untuk kondisi tubuh kita? Lebih lanjut, apakah ukuran kilogram itu adalah faktor penentu utama bagi kesehatan?
Angka Bukan Segalanya
Bila kita mengamati polemik seputar timbangan dengan lebih saksama, ada satu hal yang dapat ditarik sebagai kesimpulan. Bahwa timbangan sebenarnya memiliki fungsi yang sifatnya lebih ke arah psikologis, yaitu untuk menjaga motivasi kita dalam berusaha hidup lebih sehat dan memangkas lemak berlebih di tubuh.
Hal ini juga disampaikan oleh Dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt, seorang dokter pemerhati gaya hidup sekaligus behaviour scientist dan weight control specialist. “Pada orang tertentu, timbangan dapat memotivasi. Ada sebagian orang yang selalu mencari kepastian dalam hidupnya, sampai pada batas tertentu,” katanya. Selain itu, imbuhnya, ada orang yang tipenya pasrah dan ada juga yang tidak. Untuk orang-orang yang karakternya kurang pasrah, ia perlu banyak dukungan psikologis.
Nah, untuk memastikan kita memanfaatkan timbangan sebagai pendukung motivasi, ada baiknya juga bila kita lebih memahami seluk-beluk seputar aktivitas menimbang dan juga berat badan. Ada lima hal menarik yang bisa kita pelajari kali ini. Coba simak dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari!
1. Kita tidak perlu menimbang setiap hari
Dalam suatu studi, disebutkan bahwa mereka yang menimbang setiap hari bisa mencapai penurunan berat dua kali lipat lebih banyak dibandingkan yang menimbang setiap minggu. Namun, menurut Dr. Grace, sebenarnya frekuensi menimbang itu perlu disesuaikan dengan tipe kepribadiannya. “Selama orang itu tidak memiliki gangguan psikologis, tidak masalah bila ia menimbang setiap satu atau dua hari. Namun, untuk tipe kepribadian tertentu, seperti mudah cemas, obssesive compulsive disorder, atau depresi—saya dengan tegas meminta mereka untuk menimbang setiap tiga hari,” katanya. “Mengapa? Bila menimbang setiap hari, orang ini akan semakin cemas, panik, dan marah. Orang-orang dengan tipe ini cenderung tidak stabil kondisi emosionalnya.”
Meski demikian, memang bisa saja terjadi orang yang tipe kepribadiannya normal tiba-tiba menjadi pencemas begitu berurusan dengan timbangan. “Biasanya, orang seperti ini memiliki sifat target-oriented. Namun, ini masih normal. Mereka masih dapat melakukannya tanpa menimbulkan gangguan,” papar Dr. Grace lagi. Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa frekuensi ideal untuk menimbang adalah seminggu sekali. Menurutnya, jika menimbang setiap hari atau bahkan tiga hari sekali, kemajuannya masih belum dapat dinilai.
2. Menimbanglah Dengan Kondisi Yang Sama
Berat badan dapat berubah-ubah dalam sehari. Penyebab utamanya adalah kadar air yang ada di dalam tubuh dan yang ada di dalam makanan. Kondisi tubuh serta aktivitas harian juga dapat berpengaruh terhadap kadar air di dalam tubuh.
Untuk itu, bila kita termasuk rutin menimbang, ada baiknya bila ini dilakukan pada waktu yang sama setiap hari. “Tubuh kita tidak seperti karung, yang beratnya selalu sama setiap waktu. Ada yang masuk, ada juga yang keluar dari tubuh. Makanan yang baru dimakan dan yang belum diproses di dalam tubuh juga bisa pegang peranan. Jadi, bila berat badan terkesan naik, bukan berarti karena tubuh kelebihan makanan,” Dr. Grace menjelaskan. Itu sebabnya, menimbang di pagi bisa memberi hasil yang berbeda dengan angka yang ditunjukkan di malam hari.
Waktu menimbang paling ideal yang disarankan oleh Dr. Grace adalah pagi hari, sebelum sarapan dan mandi, namun kita sudah buang air kecil dan buang air besar. “Mandi dan makanan bisa berpengaruh. Bila saat itu belum buang air besar, lakukan penimbangan berikutnya dalam kondisi sama,” anjurnya. Tentu saja, kita tidak bisa berpaku pada perbandingan antara angka penimbangan saat ini dengan sebelumnya. Sebab, sebenarnya belum terlihat seperti apa polanya. Jadi, catatlah dengan teliti, lalu setelah sudah beberapa bulan berjalan barulah diamati apakah trennya cenderung naik atau turun.
3. Berat Badan Dapat Berubah-ubah
Faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap angka di timbangan adalah menjelang menstruasi, kehamilan, liburan, kebiasaan minum kopi, pergi ke sauna, hingga kondisi khusus seperti penyakit ginjal atau hati. Semua itu pada dasarnya dapat berpengaruh terhadap kadar air di dalam tubuh.
Menjelang haid, tubuh cenderung akan menahan air sehingga mungkin terjadi penambahan bobot sebesar ½ hingga 1 kg. Dr. Grace menjelaskan, “berat badan mungkin naik, mungkin juga tetap. Namun persentase body fat akan turun, sebab retensi cairan di tubuh tinggi. Perbedaan pada body fat bisa terlihat jauh jika dibandingkan dengan minggu-minggu sebelumnya.”
Liburan jelas membuat berat badan naik, mengingat pada saat itu sebagian dari kita memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk mencicipi berbagai makanan enak. Yang menarik, menurut Dr. Grace, para peminum kopi berat kerap mengalami fluktuasi berat badan yang cukup menonjol. Hal ini terjadi pada orang yang minum kopi hingga 5-6 cangkir sehari. “Fluktuasi pada persentasi body fat-nya tidak dapat ditebak, sementara perbedaannya bisa antara 2-3%,” terangnya. Sementara kunjungan ke sauna justru dapat membuat body fat terlihat naik dan berat badan turun, karena uap panasnya membuat air lebih banyak keluar dari tubuh.
Selain itu, kelompok yang juga perlu berhati-hati terhadap perubahan berat badan yang tidak menentu adalah mereka yang memiliki gangguan pada ginjal dan hati. Dua gangguan ini dapat membuat air menjadi tertahan di tubuh, sehingga tubuh kita menjadi bengkak.
4. Ukuran tubuh bisa mengecil, tapi timbangan tetap sama
Penelitian terbaru dari University of California, Berkeley menunjukkan, para wanita berusia 50-an yang mengikuti aktivitas bersepeda rutin selama 12 minggu ditambah dengan perubahan pola makan, mengalami penyusutan ukuran pinggang setidaknya dua nomor. Berat badannya tetap sama, meski persentasi body fat-nya turun sebanyak 7%. Menurut pengamatan ahli, hal ini dikarenakan bobot lemak di tubuhnya telah digantikan dengan massa otot dalam jumlah sama. Hasilnya, para wanita ini terlihat lebih ramping dan kencang. Menurut Wayne Wescott, PhD, penulis Get Stronger, Feel Younger, meski kesannya sederhana, sebenarnya dibutuhkan setidaknya satu bulan latihan beban untuk dapat membentuk massa otot. Agar kita dapat terus memantau perkembangan, ia menganjurkan untuk mengukur lingkar pinggang dan paha selain menimbang bobot tubuh.
5. Setialah Pada Satu Timbangan
Selain menimbang pada jam yang sama dengan kondisi yang sama, para ahli juga mengatakan bahwa tempat peletakkan timbangan juga berpengaruh pada angkanya. Selain itu, pemilihan timbangan juga perlu diperhatikan. “Menimbanglah dengan timbangan yang sama, di tempat yang sama. Meski mereknya sama, hasil timbangan yang satu tidak bisa disamakan dengan yang lain,” saran Dr. Grace.
Keputusan untuk menggunakan timbangan analog atau digital, menurut Dr. Grace lagi, sebenarnya ada plus dan minusnya. Misalnya saja, pegas pada timbangan analog yang kurang bagus gampang bergeser. Sementara jika menggunakan timbangan digital, kita dapat sangat terpicu oleh angka di belakang koma. Padahal kalau dipikir-pikir, selisih yang di bawah satu kilo itu bisa saja terjadi karena kita baru makan. Dr. Grace juga menganjurkan kita untuk tidak mudah terpengaruh dengan timbangan digital yang dilengkapi dengan penghitungan body fat. “Boleh saja dipakai, tapi sebenarnya interpretasinya sangat rumit. Tidak dapat dipastikan begitu saja dan itu hanya perkiraan. Sementara para wanita, yang memang body fat-nya mudah naik-turun, bisa gampang panik jika tidak memahami hal ini,” katanya.
* * *
Boks
Menopause & Berat Badan
Masa menopause kerap menimbulkan keluhan seputar berat badan. Hal ini berhubungan dengan tidak diproduksinya lagi sel telur, sehingga produksi hormon estrogen akhirnya terjadi dengan mengambil materi dari sumber lainnya, salah satunya adalah lemak.
Namun, menurut Dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt, sebenarnya pertambahan berat badan yang terjadi pada masa menopause ini tidak seburuk yang kita bayangkan. “Body fat memang relatif lebih mudah naik, tapi tidak terlalu banyak. Yang lebih berpengaruh sebenarnya adalah faktor gaya hidup. Pada usia itu, wanita biasanya sudah pensiun dari pekerjaan, dari segi finansial sudah memadai, aktivitas fisiknya juga menurun. Belum lagi, undangan untuk acara sosial seperti arisan atau resepsi pernikahan jadi lebih banyak. Faktor inilah yang sebenarnya membuat berat badan gampang naik,” paparnya panjang lebar. Jadi, alih-alih menyalahkan tubuh atas bertambahnya berat badan, lebih baik kita lihat lagi lingkungan sekitar dan mulai mencari solusinya.

