Dear Dr. Grace “Mengatasi Bulimia Nervosa” (Bintang Indonesia, edisi 1033, 5 Mar 2011)

Q:
Salam kenal, dokter Grace
Sebut saja saya MK. Saya mengalami bulimia sejak kelas V atau VI SD. Hingga hari ini, sepertinya penyakit ini sudah mencapai tingkat tinggi. Kalau penderita bulimia umumnya, perlu menyodok pangkal tenggorokan
dengan jari, untuk memuntahkan isi perutnya. Saya bisa mengeluarkan apa yang saya makan kurang dari 10 detik tanpa bersuara sedikit pun. Gigi saya lama-lama rusak, kena asam lambung. Sekarang saya sudah
bekerja, dan saya kurus sekali, karena dalam sehari minimal bisa 5 kali
menunduk di kloset memuntahkan makanan. Bagaimana caranya agar saya bisa kembali normal?

Terima Kasih.
MK

A:
Dear MK,
Saya mengerti susahnya menjaga penampilan sehingga bisa terus menerus dikagumi orang. Tetapi di saat hal tersebut menjadi suatu obsesi, dan mengambil jalan pintas, maka kebiasaan seperti memuntahkan makanan dengan sengaja akan menjadi suatu kebiasaan yang sangat susah dihilangkan. Bila diteruskan, maka meskipun kita berusaha berhenti, tetapi tubuh sudah otomatis terbiasa menolak makanan dari tubuh kita. Sehingga sangat sering pada stadium akhir, gangguan ini bisa menghantarkan kita ke Unit Gawat Darurat (UGD) dan harus rawat inap karena tubuh kehilangan cairan tubuh dan nutrisi.

Kondisi yang seperti ini dinamakan Bulimia Nervosa, dan masuk dalam Pedoman Penyakit Gangguan Jiwa sebagai salah satu gangguan makan. Jadi sudah bukan gangguan biasa lagi.

Tipenya ada 2 :
1. Tipe Purging : sengaja melakukan perbuatan mengeluarkan makanan/sisa-sisa makanan, dengan cara merangsang muntah dan menggunakan pencahar, makanan/minuman/obat yang merangsang diare atau buang air kecil (ex.cabe rawit, teh diet)
2. Tipe Non-purging : dengan sengaja melakukan perbuatan berlebihan untuk mengkompensasi makanan yang berlebihan. Misalnya dengan olahraga mati-matian sampai pingsan, atau puasa sampai sakit maag/pingsan.

Di Indonesia, tipe yang ke-2 ini sering tak terdeteksi karena banyak orang berpuasa sunnah atau karena kepercayaannya. Bila dilakukan bukan dengan ikhlas, tetapi didahului oleh rasa bersalah karena makan berlebihan tak terkontrol, maka pertimbangkan kemungkinan mengalami gangguan ini. Terutama bila terjadi 2-3x per minggu selama 3 bulan berturut2 minimal.

75 persen dari penderita mengalami gangguan kecemasan (seperti socio-fobia, gangguan hubungan pertemanan/suami istri) atau gangguan mood (misalnya depresi, manik-depresi) dan gangguan kepercayaan diri. Gangguan kepribadian juga seringkali muncul. Untuk menyembuhkan, dibutuhkan konsultasi dengan ahli gangguan makan atau psikologi. Penyembuhan harus disertai dengan gangguan penyerta, karena gangguan tsb yang seringkali menjadi penyebabnya. Bila tidak ditangani, maka Bulimia akan berlanjut atau menjadi gangguan makan yang lain.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Latest update on GraceJudio.com