Dear Dokter Grace,
Saya Lea, saya seorang mahasiswa tingkat akhir disebuah perguruan tinggi swasta di Tasikmalaya. Rutinitas saya saat ini terpusat pada penyusunan skripsi. Berat badan saya dulu 67 kg tetapi menyusut menjadi 50-48 kg dengan tinggi badan 150 cm karena saya mengkonsumsi obat herbal yang saya beli dari seorang teman dan kebetulan saya seorang mahasiswa farmasi yang sedikitnya mengenal bahan-bahan obat. Umur saya 21 tahun, saya ingin mendapat berat badan ideal saya karena saya merasa badan saya masih terlalu besar sehingga saya sekarang ini rutin untuk sit up di pagi hari dan joging siang hari. Bila jadwal kuliah kosong kadang saya fitnes 2 jam dan ikut aerobik 1 jam tetapi berat badan saya yang sudah 48 kg menjadi 51-50kg padahal saya melakukan rutinitas olahraga tersebut 2 jam setelah makan tetapi memang saya akui kadang saya suka ngemil setelahnya. Sebenarnya bagaimana cara penurunan yang tepat? saya ingin berat badan saya 45 kg dengan badan yang padat (tidak seperti sekarang, perut buncit; lengan tangan dan paha masih terlihat berlemak).
Dokter, saya juga membaca 1 blog mengenai obesitas, disana tertulis bahwa semakin kita banyak makan maka hormon pembakar lemak akan bekerja lebih cepat sehingga penurunan berat badan akan cepat juga. Apakah benar seperti itu, bagaimana bisa terjadi seperti itu? Terimakasih Dokter..
A:
Dear Lea,
Tampaknya Lea adalah orang yang sangat ulet dan tekun sehingga bisa menurunkan berat badan sampai 20 kg. Jarang ada orang yang bisa memotivasi diri sendiri sehingga bisa turun sebanyak itu.
Saat ini pasti tubuh Lea sedang beradaptasi dengan penurunan berat badan tersebut. Yang paling terlihat mata adalah perubahan lingkar tubuh secara keseluruhan. Bayangkan bahwa lingkar paha yang tadinya besar sekarang menyusut ukurannya.
Lapisan paling luar tubuh (misalnya paha dan lengan) adalah kulit, di bawahnya ada lemak, dan di bawah lemak ada daginG/otot yang menyelubungi tulang.
Waktu terjadi penurunan berat badan, ukuran lemak dan otot otomatis akan menyusut. Seringkali kulit tidak bisa mengikuti perubahan ini, sehingga ibarat kaos ketat, akan kelihatan kedodoran karena ‘isi’ di dalamnya menyusut. Hal ini yang sering dipersepsikan sebagai ‘kurang padat’.
Olahraga membantu mengisi ruang yang kedodoran tsb dengan otot, tetapi problem utamanya sebenarnya adalah kulit. Sangat susah sekali untuk mengembalikan kulit yang kedodoran.
Sebetulnya ada baiknya juga menambah jumlah otot. Semakin banyak otot, semakin banyak juga pembakaran tubuh karena otot adalah mesin pembakar energi.
Bila berat badan naik, itu artinya energi dari makanan yang masuk jumlahnya lebih besar dari energi yang dipakai tubuh. Jadi meskipun berolahraga, bila pola makannya berlebihan juga pasti membuat berat badan naik lagi.
Sebetulnya pola makan yang paling baik setelah turun 20kg adalah yang membuat berat badan sementara bertahan. Tetaplah makan 3x sehari tapi hindari sama sekali gorengan, kecuali bila ada hari raya atau acara spesial. Setelah 6 bulan beristirahat barulah mulai lagi. Cara penurunan berat yang salah akan membuat berat badan naik kembali, termasuk bila cuma makan 1x sehari, atau porsi sedikit sekali, apalagi bila gizi yang masuk kurang.
Problem sesungguhnya saya rasa adalah bukan karena Lea tidak tahu bahwa makan cemilan atau gorengan tidak baik buat berat badan. Tapi ada dorongan lain yang lebih besar yang membuat Lea lebih mementingkan makanan daripada berat badannya, sehingga pada akhir program berat badan Lea merambat naik. Bila ini kasusnya, Lea harus mencari pertolongan.
Ayo tetap semangat dan jangan putus asa, ya.

